BORON SI KAMBING HITAM
Karya : Delia Ilfani (
XII IPA 1 )
Aku tinggal di komplek SPU regency blok
IIIA. Aku satu kompleks dengan oksigen dan nitrogen. Aku punya empat saudara.Mereka juga tinggal di blok yang sama
dengan ku. Mereka bernama Alumunium, Galium Indium Talium. Memang belakang mereka memang
sama berakhiran ‘ium’, berbeda dengan ku.Nama ku Boron. Memang terdengar
sedikit aneh tapi namaku memiliki arti yang indah.Namaku berasal dari bahasa
Arab “Buraq” yang berarti putih. Arti namaku memang sedikit kontradiktif dengan
wujud tubuhku yang berwarna hitam legam.
Mungkin karena aku anak pertama. Dan aku berbeda dengan
saudara-saudaraku, orang tuaku sangat memanjakanku. Banyak orang menyebutku
sebagai unsur yang special. Walaupun aku unsur yang berbeda, tapi aku tidak
minder. Aku merasa sama dengan unsur-unsur yang lainnya. Mereka memiliki sifat
fisika, aku juga sama. Mereka memiliki sifat kimia, akupun juga.
Berat jenisku 2,34 g/cm3, Phasa ku padat .Jadi buat apa aku minder? Aku bersyukur
atas apa yang telah tuhan beri pada ku. Tuhan Memberikanku banyak kegunaan bagi
manusia. Aku dalam bentuk borat
digunakan sebagai anti septik ringan. Dalam bentuk senyawa aku digunakan
sebagai pelapis baja pada kulkas dan mesin cuci. Sebagian besar aku digunakan
untuk membuat kaca dan keramik. Bahkan Aku juga digunakan sebagai bahan bakar
roket atau pesawat luar angkasa jika aku bekerjasama dengan tetanggaku oksigen
dan membentuk hidrida.Tapi meskipun banyak kegunaan yang aku perbuat untuk manusia,
aku juga punya kelemahan kawan. Sebenarnya aku tak ingin merugikan manusia,
tuhan menciptakan aku hanya untuk membuat hidup manusia menjadi mudah,
tapi manusia sendiriah yang
menyalahgunakan ku. Karena kesalah mereka citraku jadi buruk dimata semua orang.
Orang –orang kini mengenalku dengan sebutan boraks. Memang itu nama panggilan dari
keluarga sejak kecil. Citra
boraks kini menjadi negatif , karena manusia menyalahgunakan ku sebagai bahan
pengawet makanan. Padahal harusnya mereka tidak menambahkanku dalam makanan,
aku hanya bias digunakan dalam zat pengawet lain nya.
Kadang aku merasa sangat bersalah,. Aku
merasa bersalah pada manusia yang baik hati tetapi terkena efek negatifku
karena ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Oh.. tuhan maafkan aku.
Belakangan ini aku memiliki hobi baru, berselancar di dunia maya. Aku banyak mengikuti perkembagan teman ku, unsur -unsur lain di sosial media. Ketika ku sedang asyik dengan social mediaku, tiba –tiba aku terkejut dengan salah satu kabar yang ada di berandaku. “5 orang manusia teridentifikasi mengidap kanker dan 2 diantaranya meningal setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung Boraks”. Aku terpaku, tak bias berkata-kata. Lirih rasanya hatiku mendengar kabar buruk ini lagi. Aku semakin merasa bersalah pada manusia. Aku merasa menjadi unsur yang tak berguna bagi manusia, aku hanyalah parasit. Pikirku dalam hati. “ Tuhan.. maafkan aku.” Kataku lirih. Tak disangka temanku datang mengunjugi rumahku. Sifatnya hampir mirip seperti aku. Berwarna hitam legam, bersifat racun, phasanya padat dan memiliki sisi positif negatif juga positif bagi manusia.Hanya saja dia sering ditemui di gas pembuangan kendaraan bermotor, sedangkan aku pada danau vulkanik. Namanya Timbal . Dia menghampiriku yang sedang termenung. “Hai.. Boron..? Kenapa melamun terus ?” kedatangan nya sedikit mengejutkan ku. “eh, timbal,kamu ngagetin aku. Kapan kamu datang ?” kataku pada timbal. “Barusan, waktu kamu lagi melamun. Kenapa Boron?” sahutnya. “Aku sedih timbal” kata ku. “Aku selalu sedih dan rasanya tak berguna jadi unsur di alam ini, kalau keberadaaan ku disini cuman jadi pembunuh bagi manusia.” Lanjutku. “Aku mengerti boron, kita sama-sama unsur yang punya racun”. Sahut timbal. “ Aku jadi gak PD lagi sebagai seorang unsur. Aku sangat bersalah timbal”. Sambungku. “ Tapi menurutku, kamu gak salah boron. “ kata timbal mencoba menguatkan ku. “ Merekalah, manusia yang tak bertangggung jawab yang bersalah” . sambung nya. “ Mereka sudah tau kalau unsur-unsur spesial, punya dua sifat positif dan negatif. Mereka juga tau kita tidak boleh digunakan dalam industri makanan. Tapi mereka malah menyalahgunakan kita, sehingga ada manusia lain yang terkena dampak negatifnya” Kata timbal padaku dengan penuh semangat. “ Jadi boron, jangan putus asa, kamu tidak bersalah.” Kata-kata timbal dengan penuh semangat. Kata-kata timbal begitu terngiang di telingaku, dan membuat hatiku sedikit lega.
Belakangan ini aku memiliki hobi baru, berselancar di dunia maya. Aku banyak mengikuti perkembagan teman ku, unsur -unsur lain di sosial media. Ketika ku sedang asyik dengan social mediaku, tiba –tiba aku terkejut dengan salah satu kabar yang ada di berandaku. “5 orang manusia teridentifikasi mengidap kanker dan 2 diantaranya meningal setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung Boraks”. Aku terpaku, tak bias berkata-kata. Lirih rasanya hatiku mendengar kabar buruk ini lagi. Aku semakin merasa bersalah pada manusia. Aku merasa menjadi unsur yang tak berguna bagi manusia, aku hanyalah parasit. Pikirku dalam hati. “ Tuhan.. maafkan aku.” Kataku lirih. Tak disangka temanku datang mengunjugi rumahku. Sifatnya hampir mirip seperti aku. Berwarna hitam legam, bersifat racun, phasanya padat dan memiliki sisi positif negatif juga positif bagi manusia.Hanya saja dia sering ditemui di gas pembuangan kendaraan bermotor, sedangkan aku pada danau vulkanik. Namanya Timbal . Dia menghampiriku yang sedang termenung. “Hai.. Boron..? Kenapa melamun terus ?” kedatangan nya sedikit mengejutkan ku. “eh, timbal,kamu ngagetin aku. Kapan kamu datang ?” kataku pada timbal. “Barusan, waktu kamu lagi melamun. Kenapa Boron?” sahutnya. “Aku sedih timbal” kata ku. “Aku selalu sedih dan rasanya tak berguna jadi unsur di alam ini, kalau keberadaaan ku disini cuman jadi pembunuh bagi manusia.” Lanjutku. “Aku mengerti boron, kita sama-sama unsur yang punya racun”. Sahut timbal. “ Aku jadi gak PD lagi sebagai seorang unsur. Aku sangat bersalah timbal”. Sambungku. “ Tapi menurutku, kamu gak salah boron. “ kata timbal mencoba menguatkan ku. “ Merekalah, manusia yang tak bertangggung jawab yang bersalah” . sambung nya. “ Mereka sudah tau kalau unsur-unsur spesial, punya dua sifat positif dan negatif. Mereka juga tau kita tidak boleh digunakan dalam industri makanan. Tapi mereka malah menyalahgunakan kita, sehingga ada manusia lain yang terkena dampak negatifnya” Kata timbal padaku dengan penuh semangat. “ Jadi boron, jangan putus asa, kamu tidak bersalah.” Kata-kata timbal dengan penuh semangat. Kata-kata timbal begitu terngiang di telingaku, dan membuat hatiku sedikit lega.
Perkataan timbal memang benar, kita
sebagai unusur memang tidak salah.Tapi kita unsur spesial, selalu dijadikan
kambing hitam atas apa yang diperbuat
manusia tidak bertanggung jawab. Aku sadar kali ini, hatikupun sedikit tenang,
tapi tetap aku meresa kasian pada mereka manusia baik yang terkena dampak
negatif dari racun ku. Aku menghela nafas dan hanya bisa berdoa dalam hati “ Ya tuhan.. sadarkanlah hati mereka, manusia
yang menggunakan ku secara salah dan lindungilah mereka , manusia baik hati
yang menggunakanku secara benar.”