Rabu, 29 Oktober 2014

Bismillahi.. Cerpen kimia pertamaku.. Agak aneh sih, waktu dikasihtau temanya mesti tentang unsur kimia. Agak binggung, tapi alhamdulilah aku dapat menyelesaikan nya tepat waktu. Inilah karya ku untuk Chemistry task's :)


BORON SI KAMBING HITAM
Karya : Delia Ilfani ( XII IPA 1 )
Aku tinggal di komplek SPU regency blok IIIA. Aku satu kompleks dengan oksigen dan nitrogen. Aku punya empat  saudara.Mereka juga tinggal di blok yang sama dengan ku. Mereka bernama Alumunium, Galium  Indium Talium. Memang belakang mereka memang sama berakhiran ‘ium’, berbeda dengan ku.Nama ku Boron. Memang terdengar sedikit aneh tapi namaku memiliki arti yang indah.Namaku berasal dari bahasa Arab “Buraq” yang berarti putih. Arti namaku memang sedikit kontradiktif dengan wujud tubuhku yang berwarna hitam legam.  Mungkin karena aku anak pertama. Dan aku berbeda dengan saudara-saudaraku, orang tuaku sangat memanjakanku. Banyak orang menyebutku sebagai unsur yang special. Walaupun aku unsur yang berbeda, tapi aku tidak minder. Aku merasa sama dengan unsur-unsur yang lainnya. Mereka memiliki sifat fisika, aku juga sama. Mereka memiliki sifat kimia, akupun juga.
Berat jenisku 2,34 g/cm3, Phasa ku padat .Jadi buat apa aku minder? Aku bersyukur atas apa yang telah tuhan beri pada ku. Tuhan Memberikanku banyak kegunaan bagi manusia. Aku dalam bentuk borat digunakan sebagai anti septik ringan. Dalam bentuk senyawa aku digunakan sebagai pelapis baja pada kulkas dan mesin cuci. Sebagian besar aku digunakan untuk membuat kaca dan keramik. Bahkan Aku juga digunakan sebagai bahan bakar roket atau pesawat luar angkasa jika aku bekerjasama dengan tetanggaku oksigen dan membentuk hidrida.Tapi meskipun banyak kegunaan yang aku perbuat untuk manusia, aku juga punya kelemahan kawan. Sebenarnya aku tak ingin merugikan manusia, tuhan menciptakan aku hanya untuk membuat hidup manusia menjadi mudah, tapi  manusia sendiriah yang menyalahgunakan ku. Karena kesalah mereka citraku jadi buruk dimata semua orang. Orang –orang kini mengenalku dengan sebutan boraks. Memang itu nama panggilan  dari  keluarga  sejak kecil. Citra boraks kini menjadi negatif , karena manusia menyalahgunakan ku sebagai bahan pengawet makanan. Padahal harusnya mereka tidak menambahkanku dalam makanan, aku hanya bias digunakan dalam zat pengawet lain nya.
Kadang aku merasa sangat bersalah,. Aku merasa bersalah pada manusia yang baik hati tetapi terkena efek negatifku karena ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Oh.. tuhan maafkan aku.
Belakangan ini aku memiliki hobi baru, berselancar di dunia maya. Aku banyak mengikuti perkembagan teman ku, unsur -unsur lain di sosial media. Ketika ku sedang asyik dengan social mediaku, tiba –tiba aku terkejut dengan salah satu kabar yang ada di berandaku. “5 orang manusia teridentifikasi mengidap kanker dan 2 diantaranya meningal setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung Boraks”. Aku terpaku, tak bias berkata-kata. Lirih rasanya hatiku mendengar kabar buruk ini lagi. Aku semakin merasa bersalah pada manusia. Aku merasa menjadi unsur yang tak berguna bagi manusia, aku hanyalah parasit. Pikirku dalam hati. “ Tuhan.. maafkan aku.” Kataku lirih. Tak disangka temanku datang mengunjugi rumahku. Sifatnya hampir mirip seperti aku. Berwarna hitam legam, bersifat racun,  phasanya padat dan memiliki sisi positif negatif juga positif bagi manusia.Hanya saja dia sering ditemui di gas pembuangan kendaraan bermotor, sedangkan aku pada danau vulkanik.  Namanya Timbal . Dia menghampiriku yang sedang termenung. “Hai.. Boron..? Kenapa melamun terus ?” kedatangan nya sedikit mengejutkan ku. “eh, timbal,kamu ngagetin aku. Kapan kamu datang ?” kataku pada timbal. “Barusan, waktu kamu lagi melamun. Kenapa Boron?” sahutnya. “Aku sedih timbal” kata ku. “Aku selalu sedih dan rasanya tak berguna jadi unsur di alam ini, kalau keberadaaan ku disini cuman jadi pembunuh bagi manusia.” Lanjutku. “Aku mengerti boron, kita sama-sama unsur yang punya racun”. Sahut timbal. “ Aku jadi gak PD lagi sebagai seorang unsur. Aku sangat bersalah timbal”. Sambungku. “ Tapi menurutku, kamu gak salah boron. “ kata timbal mencoba menguatkan ku. “ Merekalah, manusia yang tak bertangggung jawab yang bersalah” . sambung nya. “ Mereka sudah tau kalau unsur-unsur spesial, punya dua sifat positif dan negatif. Mereka  juga tau kita tidak boleh digunakan dalam industri  makanan.  Tapi mereka malah menyalahgunakan kita, sehingga ada manusia lain yang terkena dampak negatifnya” Kata timbal padaku dengan penuh semangat. “ Jadi boron, jangan putus asa, kamu tidak bersalah.” Kata-kata timbal  dengan penuh semangat. Kata-kata timbal begitu terngiang di telingaku, dan membuat hatiku sedikit lega.
Perkataan timbal memang benar, kita sebagai unusur memang tidak salah.Tapi kita unsur spesial, selalu dijadikan kambing hitam  atas apa yang diperbuat manusia tidak bertanggung jawab. Aku sadar kali ini, hatikupun sedikit tenang, tapi tetap aku meresa kasian pada mereka manusia baik yang terkena dampak negatif dari racun ku. Aku menghela nafas dan hanya bisa berdoa dalam hati “ Ya tuhan.. sadarkanlah hati mereka, manusia yang menggunakan ku secara salah dan lindungilah mereka , manusia baik hati yang menggunakanku secara benar.” 

Sabtu, 25 Oktober 2014

Waktu lagi iseng buka-buka note's di HP ternyata nemu puisi.. Jadi inget lagi deh..
Puisi ini saya buat waktu ada tugas dari Guru mata pelajaran bahasa Indonesia sekitar 3 bulan yang lalu. Sebenarnya saya gak bakat sih, bikin puisi cuman karena ini tugas individu jadi saya maksain aja. Tapi setelah dicoba ternyata bikin puisi itu teryata gampang. Apalagi jenis puisi modern yang tak terikat oleh aturan semakin memudahkan kita untuk lebih berimajinasi. Kita bisa menulis puisi dari hal-hal yang kita lihat, yang kita rasakan, dan yang kita dengar di kehidupan kita sehari-hari.Tema nya pun bebas, mau tentang percintaan, persahabatan dan bahkan mungkin temanya Kegalaunan.. :D  Jadi jangan takut berexplorasi.!

RENUNGAN MALAMKU
karya : Ilfani Adelia
Dalam Hening malam
Dalam rinai hujan
Dalam sujud kubersimpuh
Disepertiga malam kucurahkan semua beban
Bergetar mulutku kala kusebut asmaMu
Lirih hati ini kala ku ingat dosa.
Derai air mata tak nisa kutahan.
Mengalir membasahi seluruh tubuh lemah ini.
Tuhan kuatkan hatiku untuk menghadapi semua ini
Masalah cobaan dan ujian ini 
Jadikanlah guru penuntun agar ku makin dewasa
Tuhan didiklah mulutku tuk diam
sebabku tak inginn memaki kalahatiku disakiti
Tuhan didiklah mulutku Tuk hanya menyebut asamaMu





Kalau yang ini contoh puisi ekspresi kegalauan ... hee :D

DAN AKHIRNYA
karya : inaf

DAN AKHIRNYA..
Dan Akhirnya cinta ini pun terbunuh..
Cinta ini mati terbunuh.
Setelah kau dera hati ini dengan bertubi-tubi lika
Kau hunuskan pedang, kau robek hati ini, lalu kau taburi garam.
Perih hati ini.
Kucaba untuk kuat mencoba bertahan
Berharap ada secercah asa untuk kau sembuhkan hatiku
Benar kau sembuhkan luka 
Tapi kau tusuk lagi hati ini dengan Pedang yang lebih tajam.
Tak sanggup hati ini menahan
Luka yang mengoyak kekuatan ku
Tak sanggup hati ini
Menerima pukulan yang memilukan 
Hatiku ini lemah, Tulus cintaku tak mampu membendungnya
Dan akhirnya kau berhasil membunuh cinta ku
Cinta ini akhirnya mati, sirnalah sudah.